Kemendikbud Luncurkan Program Digitalisasi Sekolah Di Kabupaten Natuna

Oleh: Apriliyadi · Rabu, 18 September 2019 18.21 · 720

Bagikan

Hari ini, Rabu tanggal 18 September 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Digitalisasi Sekolah di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Peluncuran Digitalisasi Sekolah di kepulauan paling utara dari selat Karimata ini, diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effedy, dengan ditandai pemberian sarana pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kepada sekolah dan tablet kepada siswa.

 

Sarana pembelajaran TIK yang diberikan berupa PC, Laptop, LCD, Router, dan Eksternal Harddisk. Total ada 38 sekolah yang menerima sarana pembelajaran TIK, yaitu 25 SD, 9 SMP, 3 SMA, dan 1 SMK. Sarana pembelajaran TIK ini ditujukan untuk mempermudah sekolah melaksanakan Program Digitalisasi Sekolah.

 

Sasaran Pemberian Sarana Pembelajaran TIK dan Tablet

di Kabupaten Natuna

 

JENJANG PENDIDIKAN

TIK SEKOLAH

TABLET SISWA

 SD

25

508

 SMP

9

303

 SMA

3

228

 SMK

1

103

 

38

1.142

 

Sementara tablet diberikan kepada 1.142 siswa, yang terdiri dari 508 siswa SD, 303 siswa SMP, 228 siswa SMA, dan 103 siswa SMK. Tablet ini telah dipasang aplikasi rumah belajar yang menyediakan delapan fitur utama, yaitu sumber belajar, buku sekolah elektronik, bank soal, laboratorium maya, peta budaya, wahana jelajah angkasa, pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan kelas maya.

 

Namun demikian, mengingat kapasitas tempat yang terbatas untuk menampung 38 sekolah dan 1142 siswa, maka pemberian sarana pembelajaran TIK dan tablet diberikan secara simbolik kepada 18 sekolah dan 590 siswa. Sisanya akan diberikan pada tahap selanjutnya.

 

 

Digitalisasi Sekolah

Digitalisasi Sekolah merupakan terobosan baru di dunia pendidikan. Program ini memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam berbagai aspek sistem pengajaran. Kelebihan sistem ini adalah mempermudah proses belajar-mengajar karena siswa akan mudah mengakses semua bahan ajar ataupun bahan ujian dari dalam satu jaringan.

Bukan hanya untuk siswa, guru pun memperoleh banyak manfaat dari Program Digitalisasi Sekolah, karena menjadi semakin kreatif dan inovatif. Misalnya dalam hal pembuatan materi pembelajaran secara digital, guru bisa membuat e-book yang berupa kombinasi teks, gambar, dan video.

http://psmk.kemdikbud.go.id/uploads/images/articles/imagepng_5d82ae51dc44b.png

 

Melalui Digitalisasi Sekolah itu pula, komunitas guru saling bekerjasama membuat materi pembelajaran secara digital. Mengunggah bahan ajar tersebut ke dalam jaringan untuk digunakan bersama. Membuat tes ujian harian dan melaksanakannya secara bersama-sama lintas sekolah dalam jaringan online.

 

Lebih jauh, Digitalisasi Sekolah ini merupakan implementasi dari new learning, yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Karakteristik new learning di antaranya adalah student centered, multimedia, collaborative work, information exchange,  dan critical thinking and informed decision making.

 

3 Milyar untuk Sarana Pembelajaran TIK dan Tablet

Program Digitalisasi Sekolah tersebut, telah disinggung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effedy, usai memberi seminar di Universitas Negeri Malang (UM) pada Senin, 2 September 2019.

 

"Pertengahan September kita akan canangkan digitalisasi di seluruh sekolah. Kita mulai realisasinya dari sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Lokasi pencanangan atau peluncuran ini akhirnya ditetapkan di Kabupaten Natuna, dengan sasaran 38 sekolah dan 1.142 siswa.

 

Total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian sarana pembelajaran TIK dan tablet itu adalah Rp. 3.176.000.000,-, dengan rincian Rp. 892.000.000 untuk sarana pembelajaran TIK kepada 38 sekolah dan Rp. 2.284.000.000 untuk tablet kepada 1.142 siswa.

 

Rincian Biaya Pembelian Sarana Pembelajaran dan Tablet  di Kabupaten Natuna

 

   

Dana tersebut diambilkan dari BOS Afirmasi dan BOS Kinerja. BOS Kinerja adalah program Pemerintah Pusat yang dialokasikan bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang dinilai berkinerja baik dalam menyelenggarakan layanan pendidikan. Sementara BOS Afirmasi adalah program Pemerintah Pusat yang dialokasikan bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang berada di daerah tertinggal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Pembelian sarana pembelajaran TIK untuk sekolah dan tablet untuk siswa di atas, merujuk pada Petunjuk Teknis BOS tentang Pemanfaatan BOS Afirmasi dan Kinerja Tahun 2019, khususnya pada poin penyediaan alat pendukung akses rumah belajar.

 

Selain di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, peluncuran Digitalisasi Sekolah direncanakan akan dilakukan di Provinsi Papua dan Papua Barat, khususnya di tiga kabupaten yaitu, Fak-Fak, Manokwari dan Jayapura.

 

Terkait hal di atas, tahun 2019 ini Kemendikbud telah menganggarkan bantuan sarana pembelajaran TIK dan tablet melalui BOS Kinerja untuk 6.004 sekolah dan 692.212 siswa. Selain itu, ada juga BOS Afirmasi yang diperuntukkan kepada 30.277 sekolah dan 1.061.233 siswa.

 

Sesuai agenda, setelah peluncuran Program Digitalisasi Sekolah, Kemendikbud juga mencanangkan 5 program lain. Pertama, percepatan pencairan PIP. Kedua, Program PKP. Ketiga, SeTARA Daring dan E Modul Pendidikan Kesetaraan. Keempat, Laman Sahabat Keluarga, dan kelima, BCF Pendidikan Keluarga dalam Jaringan.

 

  1. Percepatan Pencairan PIP

Percepatan pencairan PIP di Kabupaten Natuna dilaksanakan dengan menggandeng Bank Penyalur. Total calon penerima PIP di Kabupaten Natuna adalah 566 siswa, yang terdiri dari 178 siswa SD, 368 siswa SMP, 19 siswa SMA, dan 1 SMK.

 

Pencairan PIP itu dipercepat agar segera dapat dimanfaatkan oleh para siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin di Kabupaten Natuna, sekaligus mencegah mereka dari kemungkinan putus sekolah.

 

Seperti diketahui, PIP adalah bantuan berupa uang tunai dari pemerintah yang diberikan kepada siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin dalam membiayai pendidikan. Kelahiran PIP bertolak dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Program Keluarga Produktif melalui Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS), Program Indonesia Sehat (PIS) dan PIP. Berangkat dari Inpres ini, Kemendikbud melaksanakan PIP dengan tujuan meningkatkan akses bagi anak usia 6-21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah.

 

  1. Penerapan PKP

Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP), merupakan program yang bertujuan meningkatkan kompetensi  peserta didik  melalui pembinaan guru dalam perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

 

Program PKP tersebut dikomando oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Sementara pelaksanaannya mempertimbangkan pendekatan kewilayahan atau zonasi, dengan melibatkan Unit Pelaksana Teknis (P4TK/LP3TK-KPTK), Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota,  masyarakat penyelenggara satuan pendidikan, asosiasi profesi guru, serta komunitas GTK.

 

Indikator keberhasilan Program PKP adalah meningkatnya kualitas peserta didik. Karena itu, program ini dirancang dalam bentuk pelatihan  berjenjang mulai dari Pembekalan Guru Inti Provinsi/Kabupaten/Kota yang memiliki pola 60 JP, dan Guru Sasaran yang memiliki pola 82 JP. Adapun pelaksanaan Program PKP guru sasaran dilakukan secara tatap muka dengan pola 5 In - 3 On, di mana kegiatan pembelajarannya dilakukan sebagian secara tatap muka dan sebagian dilakukan secara mandiri melalui pemberdayaan PKG/KKG/MGMP/MGBK/MGTIK sesuai zonasinya.

 

Untuk Kabupaten Natuna, jumlah guru inti yang telah dilatih dan lulus sebanyak 14 orang pada 11 mata pelajaran. Sedangkan untuk guru sasaran PKP sebanyak 138 orang yang tersebar di 46 sekolah sebagaimana tabel berikut:

http://psmk.kemdikbud.go.id/uploads/images/articles/imagepng_5d82afdb6ded9.png   http://psmk.kemdikbud.go.id/uploads/images/articles/imagepng_5d82afe47cf27.png

 

  1. SeTARA Daring dan E Modul Pendidikan Kesetaraan

seTARA daring merupakan inovasi layanan pembelajaran pendidikan kesetaraan yang dapat dijadikan pilihan moda pembelajaran melalui ruang kelas digital yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

 

Fitur fitur yang mendukung dalam seTARA daring diantaranya adalah penggunaan sistem modular, konten multimedia, sumber belajar, kuis, laporan nilai dan forum diskusi. Saat ini seTARA daring telah digunakan lebih dari 600 satuan pendidikan non formal, dengan pengguna terdaftar sebanyak 12 ribu tutor maupun peserta didik. Laman seTARA daring dapat diakses pada setara.kemdikbud.go.id

 

Sementara E Modul Pendidikan Kesetaraan merupakan modul digital Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan yang didesain untuk menjadi sumber belajar yang menyenangkan. E Modul juga merupakan salah satu fitur yang sudah terintegrasi dengan seTARA daring, sehingga dapat langsung diakses melalui laman seTARA daring.

 

Saat ini, terdapat 450 Modul Pendidikan Kesetaraan untuk Paket A, Paket B dan Paket C, dan dapat diakses sekaligus diunduh pada laman emodul.kemdikbud.go.id

 

  1. Laman Sahabat Keluarga

Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pola pengasuhan dan pendidikan yang diterapkan orang tua akan menentukan karakter dan kepribadian, motivasi berprestasi dan kondisi kesehatan serta kebugaran anak-anak. Karena itu, orang tua harus memperkuat dan meningkatkan komunikasi dengan satuan pendidikan di mana anak-anak mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk bekal menjalani kehidupan.

 

http://psmk.kemdikbud.go.id/uploads/images/articles/imagepng_5d82b01edc663.png

 

Guna memfasilitasi kebutuhan orang tua, Kemendikbud menyediakan laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id. Laman ini memiliki 3 tujuan. Pertama, merajut kemitraan antara orang tua dengan satuan pendidikan, mulai tingkat PAUD, TK, SD, sampai tingkat SMA/SMK. Kedua, membangun ekosistem pendidikan yang terdiri atas orang tua, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dewan pendidikan, pegiat pendidikan dan masyarakat keseluruhan, yang cerdas dan berkarakter; dan ketiga, orang tua dapat memperoleh praktik baik pendidikan keluarga dan menularkannya ke orang tua lain.

 

Selain itu, ada 4 manfaat yang dapat diambil dari laman ini. Pertama, menyampaikan informasi mengenai pendidikan keluarga. Kedua, menjadi alat komunikasi, dengan memanfaatkan kanal forum untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman. Ketiga, memberikan fasilitas hiburan dengan adanya kanal lagu, veideo, dongeng, dan artikel popular sebagai alat penyampain edukasi yang kekinian; dan keempat, sebagai sarana promosi dan publikasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dalam penyampain program ke masyarakat

 

Pada laman tersebut, disediakan beberapa menu menarik, yaitu:

  • BERITA: Berisi informasi terkini terkait dengan pendidikan secara umum dan khususnya pendidikan keluarga
  • KELUARGA HEBAT: Berisi kisah-kisah inspiratif dalam pembinaan keluarga
  • SEKOLAH SAHABAT KELUARGA: Kisah-kisah sekolah yang dapat menginspirasi peningkatan mutu
  • FORUM: Sebagai sarana berbagi ide, pemikiran maupun pengalaman dalam pendidikan keluarga
  • PUSTAKA: Berisi buku pedoman, panduan teknis dan lain-lain terkait pendidikan keluarga
  • GALERI: Berisi infografis, video, dan video grafis pendidikan keluarga
  • LAGU: Memberikan pengatahuan yang sesuai dengan umur dan karakter bangsa
  • DONGENG: Berisi cerita yang membantu pengembangan pendidikan keluarga dan penguatan karakter bangsa
  • OPINI: Berisi tulisan pendapat seseorang akan pendidikan keluarga

 

  1. BCF Pendidikan Keluarga dalam Jaringan

Bimbingan Calon Fasilitator (BCF) Pendidikan Keluarga dalam Jaringan adalah pelatihan yang ditujukan untuk para calon fasilitator pendidikan keluarga di daerah. Mereka akan bertugas mendampingi keluarga di Indonesia dalam meningkatkan kapasitas, peranan dan fungsinya dalam mendidik anak secara optimal.

 

BCF Pendidikan Keluarga dalam Jaringan dirancang dalam satu paket pembelajaran, di mana peserta akan belajar secara mandiri melalui berbagai bahan ajar seperti modul dan video, diskusi interaktif melalui video conference yang dipandu narasumber, dan grup whatsapp ataupun diskusi melalui platform di MOOC yang dipandu fasilitator pusat.

 

Materi yang akan dipelajari oleh peserta sebanyak delapan materi, diantaranya adalah pengasuhan positif, mendidik anak di era digital, dukungan psikologis awal, dan sebagainya.

 

BCF Pendidikan Keluarga dalam Jaringan ditujukan bagi para praktisi dan penggiat keluarga yang berasal dari bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan bidang keilmuan lainnya, yang memiliki visi dan misi untuk membantu keluarga dalam menjalankan peran dan fungsinya, serta mencapai kapasitas optimal dalam mencapai kesejahteraan anggota keluarganya, terutama anak.

 

Ada 4 tujuan BCF dalam Jaringan. Pertama, meningkatkan jangkauan layanan pendidikan keluarga melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Kedua, meningkatkan jangkauan dan partisipasi masyarakat dalam mengikuti pelatihan calon fasilitator. Ketiga, meningkatkan jumlah fasilitator sebagai agen pendidikan keluarga; dan keempat, memotivasi masyarakat untuk lebih meningkatkan peran dalam pendidikan keluarga.

 

Peserta program BCF dalam Jaringan dapat diikuti oleh masyarakat umum dan tidak terbatas jumlahnya dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Memiliki ijazah minimal S1;
  2. Memiliki portofolio sebagai penggerak pendidikan di masyarakat;
  3. Memiliki kemampuan literasi dan komunikasi dengan baik;
  4. Bersedia melakukan fasilitasi pendidikan keluarga;
  5. Memiliki niat dan kemampuan belajar secara mandiri;
  6. Dapat mengoperasikan internet; dan
  7. Terdapat fasilitas untuk mengakses internet.

 

 

Natuna, September 2019

Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan

 

Bagikan

#PetuahPetuah

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.

Tan Malaka