WSC 2019, Sarana Peserta Menuju Profesional Plastic Die Engineering

Oleh: Apriliyadi · Senin, 26 Agustus 2019 18.03 · 580

Bagikan

Kebutuhan tenaga profesional plastic die engineering diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi peralatan mesin CNC, mesin otomatis kecepatan tinggi, dan mesin manufaktur lainnya. Spesialis bertugas untuk merancang dan membuat cetakan plastik dari gambar desainer untuk produk yang diproduksi massal dan berkualitas tinggi.

 

Profesional di bidang ini merupakan penghubung penting dalam rantai pembuatan produk seperti mobil, telepon, peralatan rumah tangga, peralatan medis, dan apa pun yang membutuhkan plastik. Untuk menjadi profesional, seseorang membutuhkan tingkat keterampilan berhitung yang tinggi, keterampilan tangan dan permesinan yang baik, perakitan, pengujian, dan pemecahan masalah.

Engineer harus memiliki kemampuan mekanik yang baik untuk mengembangkan bagian-bagian plastik, mengetahui cara menggunakan sistem permesinan yang terkomputerisasi dan memiliki pengetahuan mendalam tentang karakteristik plastik dan proses yang terjadi. Mereka juga harus imajinatif dan kreatif agar dapat menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Selain itu, harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik untuk berinteraksi dengan berbagai insinyur, ahli kimia, pengawas, perancang, analis, teknisi lainnya atau bahkan pelanggan langsung.

Mochammad Hafid Miftah Fauzi merupakan lulusan SMK Negeri 1 Singosari Malang, Provinsi Jawa Timur, sedang berupaya menjadi seorang profesional di bidang. Upayanya dimulai dari World Skill Championship (WSC) Kazan 2019. Bersaing dengan kontingen dari negara lain untuk mempersembahkan prestasi untuk Indonesia.

 

Sebelum berangkat mengikuti WSC, juara Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional 2019 mempersiapkan diri mendapat pembekalan dan pelatihan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan pada WSC kali ini Ia didampingi seorang Expert yaitu Bapak Muryanto.

Bagikan

#PetuahPetuah

Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur)