Kemendikbud Bekali Hak Kekayaan Intelektual dan Izin Produksi Produk SMK

Oleh: Apriliyadi · Sabtu, 22 Juni 2019 13.47 · 745

Bagikan

Tak kurang 100 SMK menghadiri kegiatan sosialisasi Hak Intelektual dan izin produksi produk SMK di Hotel Borneo Banjarmasin (19-20/6) yang digagas oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).   Kegiatan ini merupakan sarana pembahasan secara teknis dalam rangka peningkatan kapasitas dan kualitas produk SMK yang berstandar dan bersertifikasi.

Dalam sambutannya, Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan SMK, Arie Wibowo Khurniawan, menyampaikan kegiatan ini bertujuan  dalam rangka persiapan pameran produk SMK di gelaran Food Expo Jepang 2020. Syarat utama produk yang dipamerkan harus sudah HAKI. Syarat lainnya adalah produk harus dikemas dengan menarik agar nilai jual yang tinggi dan menjangkau pasar global.

Sejumlah 100 SMK yang menghadiri kegiatan sosialiasi ini merupakan sekolah yang mempunyai produk yang dihasilkan dari teaching factory. Dalam grand design SMK, teaching factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri.

Sejak tahun 2015 hingga tahun 2018, jumlah SMK yang dikembangkan melalui program teaching factory sebanyak 852 SMK. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melalui Direktorat Pembinaan SMK akan terus berupaya mendorong setiap SMK menerapkan strategi pembelajaran teaching factory.

Dengan 146 kompetensi keahlian, SMK akan menghasilkan berbagai macam produk yang bisa dihasilkan serta dipasarkan kepada masyarakat luas.  Demi terciptanya peningkatan kapasitas dan kualitas produk SMK yang berstandar dan bersertifikasi sehingga bernilai jual dan berdaya saing tinggi, beberapa hal perlu dibenahi.  

Salah satunya adalah persoalan hak kekayaan intelektual (HKI) yang di dalamnya memuat merek, hak paten, desain industri, rahasia dagang, hak cipta, dan desain tata letak sirkuit terpadu (DTLST). Oleh sebab itu, Direktorat Pembinaan SMK mendorong agar setiap produk unggulan dari berbagai bidang di masing-masing SMK mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan izin produksi produk SMK.

Sejalan dengan hal tersebut, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan bahwa ada 16 subsektor ekonomi kreatif yang didorong oleh pemerintah untuk terus tumbuh. Keenam belas subsektor tersebut adalah aplikasi & games digital, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi & video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi & radio.

Semua subsektor tersebut dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan SMK ke dalam sembilan bidang keahlian melalui teaching factory. Beberapa produk telah dihasilkan, seperti kue & roti, alat penghemat listrik, kebutuhan rumah tangga, tas, pakaian, olahraga, makanan, produk kriya, dan berbagai macam produk lainnya.

 

Bagikan

#PetuahPetuah

Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Pramoedya Ananta Toer