SMK Pariwisata menuju Penerapan Kurikulum Standar ASEAN (Common ASEAN Tourism Curriculum (CATC)

oleh Apriliyadi 1.137

Jakarta (11/5), Sektor pariwisata Indonesia saat ini masih sangat potensial untuk dikembangkan. Salah satu target yang telah ditetapkan pemerintah dalam pengembangan pariwisata adalah adanya kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada tahun 2019 melalui pengembangan 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau 10 “Bali baru”.

 

Komitmen pemerintah mendorong sektor pariwisata tentunya perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur kepariwisataan dan sumber daya manusia pariwisata yang sesuai dengan standar internasional. Standar ini diperlukan mengingat wisatawan yang berkunjung ke Indonesia ditargetkan berasal dari berbagai belahan dunia. Maka, untuk meningkatkan kepuasan wisatawan, paket-paket wisata dan akomodasi yang ditawarkan untuk wisatawan perlu dibenahi sesuai dengan standar internasional.

 

SMK sebagai salah satu pemasok calon sumber daya manusia di bidang pariwisata perlu mempersiapkan diri. Pengembangan pariwisata merupakan kesempatan emas bagi SMK untuk mengambil peran penting sebagai pemasok sumber daya manusia terampil pada level menengah. Kurikulum, sarana dan prasarana belajar, guru, dan strategi pembelajaran di SMK harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri pariwisata yang sedang berkembang dengan pesat. Penyesuaian diri dengan kebutuhan sektor pariwisata akan meningkatkan peluang lulusan SMK agar segera direkrut dan bekerja di bidang-bidang pariwisata.

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta dengan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan SEAMEO-SEAMOLEC bekerjasama untuk menerapkan kurikulum standar ASEAN/Common ASEAN Tourism Curriculum (CATC) di SMK yang disusun berdasarkan ASEAN Common Competency Standard on Tourism Professional (ACCSTP).  Penerapan kurikulum di SMK ini bertujuan untuk mempersiapkan sejak dini calon sumber daya manusia kompeten bidang pariwisata yang memiliki standar internasional, sekaligus sebagai modal dalam penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah dicanangkan sejak akhir 2015.

 

Sebagai tahap awal, 21 SMK ditunjuk untuk menerapkan CATC yaitu (1) SMK Negeri 2 Batam (2) SMK Negeri 3 Pematang Siantar (3) SMK Negeri 3 Pangkalpinang (4) SMK Negeri 6 Palembang (5) SMK Negeri 1 Pandeglang (6) SMK Negeri 27 Jakarta (7) SMK Negeri 57 Jakarta (8) SMK Metland Bogor (9) SMK Negeri 9 Bandung (10) SMK Negeri 6 Semarang (11) SMK Negeri 6 Yogyakarta (12) SMK Negeri 1 Buduran (13) SMK Negeri 2 Boyolangu (14) SMK Negeri 3 Malang (15) SMK Negeri 5 Pontianak (16) SMK Negeri 4 Banjarmasin (17) SMK Negeri 3 Kendari (18) SMK Negeri 3 Denpasar (19) SMK Negeri 2 Mataram (18) SMK Sadar Wisata Ruteng (19) SMK Negeri 1 Ternate.

 

Untuk memperluas peningkatan kualitas SDM pariwisata lulusan SMK, maka Direktorat Pembinaan SMK memberikan bantuan pemerintah Pengembangan SMK Pariwisata Pendukung Pariwisata kepada 90 SMK di Indonesia termasuk untuk ke-21 SMK tersebut. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad yang hadir pada saat acara bimbingan teknik teknis bantuan Pengembangan SMK Pariwisata Pendukung Pariwisata sangat mengapresiasi inisiasi penerapan CATC di SMK. “Pangsa pasar pariwisata tidak hanya ada di dalam negeri tapi sekarang sudah masuk ke dalam pasar ASEAN seiring berlakunya ASEAN Economic Community, sehingga diperlukan upaya sinkronisasi kurikulum yang diterapkan di SMK dengan kurikulum yang telah disepakati di tingkat ASEAN. Sinkronisasi/penyelarasan kurikulum di SMK adalah suatu keniscayaan untuk memastikan bahwa apa yang dipelajari di SMK sesuai dengan kebutuhan terkini di dunia kerja ” kata Hamid.

 

Pelaku industri pariwisata juga sangat antusias menyambut perkembangan SMK dalam meningkatkan kualitas lulusannya. Direktur PT. Metropolitan Golden Management (MGM) Basari Bahri selaku pemilik chain hotel dengan brand Horison yang diundang secara khusus dalam kegiatan bimtek menyampaikan bahwa SMK memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia terampil khususnya di grup Horison. “Kami punya program khusus melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan guna mendukung SMK supaya lebih lebih berkualitas. Melalui kerja sama tersebut, kami mengharapkan kebutuhan SDM terampil dan kompeten di grup Horison dapat terpenuhi”, pungkas Basari yang juga merupakan lulusan SMK di Semarang.

 

Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam penerapan CATC  di SMK adalah adanya sistem sertifikasi yang akan menjadi penjaminan lulusan dan sekaligus pengakuan atas capaian kompetensi lulusan SMK. Untuk mewujudkan hal tersebut, BNSP sebagai pihak yang ditunjuk memiliki otoritas dalam Tourism Professional Certification Body (TPCB) di Indonesia bersama Kementerian Pariwisata telah mengembangkan skema sertifikasi yang digunakan untuk mensertifikasi SDM Pariwisata di Indonesia termasuk lulusan SMK.  Pada kesempatan berbeda, Komisioner BNSP Tetty DS Ariyanto menyampaikan apresiasi atas upaya yang dilakukan beberapa SMK yang telah menerapkan CATC.

 

“Perlu kerja bersama serta dukungan dari seluruh pihak untuk mewujudkan penerapan CATC di lembaga pendidikan. Saya melihat ada beberapa SMK yang sudah cukup bagus dalam menerapkan CATC, itu merupakan best practice yang bisa diterapkan di SMK lainnya” ujar Tetty.

 

Lebih lanjut Komisioner BNSP yang dilantik oleh Menteri Tenaga Kerja akhir 2018 lalu tersebut menjelaskan “Kami telah mengusulkan di level ASEAN bahwa nanti SDM Pariwisata yang melakukan uji sertifikasi kompetensi dengan skema ASEAN melalui Lembaga Sertifikasi Profesi yang dilisensi BNSP sebagai TPCB ASEAN akan mendapatkan sertifikat kompetensi berlogo Garuda dan logo ASEAN”.

Penerapan CATC di SMK diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia bidang pariwisata yang dapat mendukung kepariwisataan Indonesia. Hal tersebut tentunya sangat sejalan dengan program yang sedang diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo bahwa tahapan setelah pembangunan infrastruktur adalah tahap pengembangan sumber daya manusia.

Salam

Beri nilai konten ini  
Responsive image