Soal Ujian Dibedakan

oleh Desy Gitapratama 649

JAKARTA, KOMPAS – Ujian nasional tingkat SMK yang berlangsung pada Senin (25/3/2019) hingga Kamis (28/3) diikuti 1.524.104 siswa. Dari jumlah siswa itu,  99,5 persen di antaranya mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer atau UNBK.

Dalam UN kali ini, siswa di daerah terdampak bencana gempa, tsunami, dan banjir bandang mendapat perlakuan khusus, yaitu soal UN berbeda dengan soal UN untuk siswa pada umumnya. Jumlah soal ujian tetap, tetapi kedalaman permasalahannya berbeda. Alasannya, siswa di daerah terdampak bencana bersekolah di tempat darurat dan sementara. Selain kehilangan jam belajar cukup lama, kondisi mental dan psikologis mereka juga belum stabil.

“Di daerah terdampak bencana, soal (UN) disesuaikan dengan pembelajaran yang sudah ditempuh di sekolahnya,” kata Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mochammad Abduh ketika mendampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meninjau pelaksanaan UNBK di beberapa SMK di  Yogyakarta, Senin.

Kondisi tersebut seperti dialami para siswa di Lombok,  Nusa Tenggara Barat. Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB Aidy Furqon mengatakan, untuk siswa di Lombok Utara dan Lombok Timur yang terdampak gempa pada Juli-Agustus 2018, mata pelajaran dan materi yang diujikan dalam UN khusus.

“Tingkat kesulitannya dikurangi. Level normal untuk siswa di luar yang terdampak gempa tingkat kesulitannya 1-5, tetapi bagi siswa yang terdampak gempa tingkat kesulitannya dikurangi menjadi 1-3,” kata Aidy di Mataram.

Di Kabupaten Jayapura, Papua, para siswa kelas XII SMKN 1 Sentani yang menjadi korban banjir bandang Sentani pada 16 Maret lalu terpaksa menginap di sekolah agar dapat mengikuti UN.

“Saya bersama teman-teman menginap di sekolah agar tetap fokus mengikuti UNBK,” kata John Nasendi (18), siswa SMKN 1 Sentani. Dari 181 peserta UNBK di SMKN 1 Sentani, sebanyak 25 siswa adalah korban banjir bandang.

Sementara itu, sebanyak  71 siswa SMKN 5 Penerbangan Waibu mengikuti UNBK di dua ruang kelas SMKN 1 Sentani. Mereka tidak bisa mengakses sekolah mereka karena jalan rusak diterjang banjir bandang.

Secara umum, UN berlangsung lancar. Beberapa sekolah mengalami gangguan server, tetapi dapat segera diatasi. Di Yogyakarta, misalnya, beberapa sekolah terlambat mendapatkan token untuk siswanya.

Di SMK Bopkri 1 Yogyakarta, token terlambat keluar selama 15 menit. Siswa menunggu di depan komputer masing-masing. Setelah token keluar mereka baru mulai mengerjakan soal ujian tanpa diberikan tambahan waktu karena waktu menunggunya dinilai tidak terlalu lama.

“Penyebabnya karena token yang menjadi nomor sandi siswa untuk mengakses laman UN lama keluar akibat aliran listrik sempat terjeda,” kata Abduh.

Sementara itu, sebagian kecil siswa masih menggunakan sistem Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) karena kendala listrik dan jaringan internet. Hal ini seperti dialami 110 siswa di tiga SMK di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

“Listrik belum stabil. Begitu juga dengan jaringan internet. Kami upayakan agar tahun depan UNBK bisa dilakukan di sana,” kata Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit seusai memantau UNBK di sejumlah SMK di Kota Padang.

Ujian Nasional 2019 akan diikuti 8,3 juta siswa dari 103.000 sekolah dan satuan pendidikan kesetaraan, yaitu mulai jenjang SMP/Mts hingga SMA/MA/SMK. Sebanyak 91 persen peserta didik dipastikan siap mengikuti UNBK. (DNE/HRS/FLO/ZAK/RUL)

Sumber: Koran Kompas tanggal terbit 26 Maret 2019

Beri nilai konten ini  
Responsive image