Kerja Sama Industri-SMK Kunci Utama Atasi Ketertinggalan Penguasaan Teknologi

oleh Apriliyadi 430

TANGERANG  – Kerjasama antara industri dengan dunia pendidikan khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan hal yang penting terlebih saat ini sektor pendidikan memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan penguasaan teknologi dan kompetensi sehingga dapat memenuhi kebutuhan dunia industri. 

"Link and match antara sektor pendidikan dan industri merupakan hal yang harus terus ditingkatkan. Selain dapat mengatasi ketertinggalan dalam penguasaan teknologi, link and match ini dapat meningkatkan serapan tenaga kerja dari SMK oleh industri,” jelas Adrianus Yose Rino, Direktur DNA Initiative ketika ditemui di sela-sela acara The Indonesia’s First Rotary Drilling Rig Operator Training Class Graduation Ceremony di 10NZ Place Alam Sutera, Jumat (15/3). 

Menurut Rino, upaya link and match ini sudah didorong oleh pemerintah melalui Inpres No. 9/2016 tentang Revitalisasi SMK. Melalui inpres ini, pemerintah mendorong agar sektor industri bekerjasama dengan SMK. Dengan demikian, para siswa SMK dapat meningkatkan kemampuan teknisnya dan diharapkan dapat terserap oleh industri. 

“Terdapat kurikulum berbasis industri yang dapat diintegrasikan dengan kurikulum yang sudah diterapkan di SMK. Apabila kurikulum berbasis industri ini diintegrasikan dengan praktik 

Kerja Industri (Prakerin) seperti yang saat ini DNA Initiative lakukan bersama PT IPB dan beberapa SMK, maka akan ada alih teknologi sehingga sekolah tidak tertinggal teknologinya dari dunia industri dan dapat menghasilkan tenaga yang terlatih serta handal untuk diserap oleh industry,” papar Rino. 

DNA Initiative sebagai lembaga yang menjembatani dunia pendidikan dan sektor industri diinisiasi pada tahun 2015 oleh beberapa sekolah pionir diantaranya: SMK Muhammadiyah 1 Weleri, SMK Maarif Kudus, dan SMK negeri Guguak Limapulu Kuto. 

“Pada wisuda kali ini, kami meluluskan 19 siswa SMK yang sudah mengikuti Prakerin bersama dengan PT. IPB selama 6 bulan dari 3 September 2018 hingga 3 Maret 2019. Kami harapkan nantinya akan lebih banyak lagi sekolah yang aktif bekerjasama dan menerapkan kurikulum berbasis industry,” ungkap Rino. 

Terdapat empat sekolah yang mengikutsertakan siswanya dalam mengikutsertakan siswanya dalam program Prakerin bersama PT. 

Keempat sekolah tersebut adalah SMK Mutu Bandongan Magelang, SMK Samudra Nusantara Cirebon, SMK PGRI 2 Ponorogo, dan SMK Diponegoro Karang Anyar Pekalongan. 

“Saya berharap siswa yang sudah berhasil diwisuda dan langsung diterima bekerja sebagai karyawan PT. IPB tidak lekas merasa puas. Mereka tetap harus terus belajar sehingga dapat meningkatkan ilmu yang mereka dapat dan nantinya berhasil meraih cita-cita yang sudah diimpikan,” jelas Rino. 

Upaya DNA Initiative untuk melakukan link and match sektor industri dan pendidikan mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Kepala Sub Direktorat Penyelarasan Kejuruan dan Kerjasama Industri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Suryadi merespon positif peran DNA Initiative dan juga PT. IPB yang telah menyelenggarakan Prakerin dengan siswa SMK. 

“Pemerintah berterima kasih dan mengapresiasi atas peran DNA Initiative dan juga PT IPB yang sudah membuka kesempatan bagi siswa SMK untuk melakukan prakerin sesuai dengan amanat Presiden yang ada di dalam Inpres No. 9/2016,” katanya. 

Suryadi pun berharap kerjasama yang baik ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sehingga semakin banyak lagi siswa SMK yang mendapatkan manfaat untuk bekerja di sektor industri. 

“Saya yakin kerjasama yang baik ini dapat semakin ditingkatkan sehingga kualitas pendidikan kejuruan di Indonesia dapat terus berkembang dan maju,” pungkas Suryadi.  (is)

 

Sumber : beritagar.id

Beri nilai konten ini  
Responsive image