Hadapi Revolusi Industri 4.0, SMK Wajib Kuasai Bahasa Asing dan Teknologi

oleh Apriliyadi 954

Memasuki era Revolusi Industi 4.0 yang ditandai dengan ditandai dengan perpaduan teknologi yang mengaburkan garis antara bidang fisik, digital, dan biologis atau dikenal dengan istilah internet of things, Presiden Indonesia Joko Widodo meluncurkan “Making Indonesia 4.0”, sebuah peta jalan yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi.

Strategi lainnya adalah diterbitkannya Inpres no 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Kondisi ini pun mau tidak mau membuat Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) harus bebenah.

Inpres tersebut dikeluarkan pada tanggal 9 September 2016 di Jakarta dan ditujukan kepada 12 Menteri Kabinet Kerja (termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), 34 Gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Perihal Gubernur, salah satu tugasmya adalah membuat peta jalan provinsi. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu provinsi yang sudah membuat peta jalan revitalisasi SMK.

Menurut Prof. Buchory, Wakil Ketua Dewan Pendidikan DIY, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY dan sekolah kejuruan.

“Dinas dan sekolah harus meningkatkan kerja sama dengan dunia industri baik dalam proses penyusunan kurikukum maupun dalam praktik industri,” ucap Buchory, Selasa (29/1/2019).

sumber gambar : independensi.com

 

Selain itu, menurut Buchory, agar siswa SMK mampu bersaing, SMK dengan bidang keahlian apa pun perlu diberi kemahiran dalam bahasa asing dan penguasaan informasi teknologi. Terlebih pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan segera selesai. Kondisi ini harus dijadikan pacuan agar SMK di DIY segera berbenah sebab akan banyak tenaga kerja yang dibutuhkan, khususnya dari lulusan SMK.

Kepala Seksi SMK Bidang Pendidikan Menengah, Disdikpora DIY, Heru Santosa mengungkapkan kurikulum SMK mengacu pada perkembangan teknologi terkini. “Kami berusaha mengikuti tuntutan dunia industri, biasanya per sekolah punya mitra industri masing-masing,” ucap Heru.

Perihal standar SMK, Buchroy yang juga merupakan Guru Besar Program Pascasarjana Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengungkapkan jika SMK di DIY sudah memenuhi standar nasional pendidikan dan terakreditasi A semestinya sudah mampu bersaing.

Di sisi lain, salah satu kendala pengembangan SMK di DIY antara lain para lulusan mengalami kendala budaya. Para lulusan SMK di DIY kebanyakan tidak bersedia menerima tawaran kerja di daerah lain karena mbok-mbokan atau enggak mau pisah dengan orang tua. Buchory mengungkapkan agar siswa tetap tertarik masuk SMK bisa dilakukan dengan pemberian beasiswa, keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan kerja dan ketersediaan kerja.

 

Sumber : diolah dari harianjoga.com 

Beri nilai konten ini  
Responsive image