Mendorong ekonomi baru lewat SMK

oleh Yuli Setiawan 506

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tengah menjadikan pendidikan kejuruan sebagai satu prioritas untuk menghasilkan tenaga kerja terdidik dan terampil guna mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam melaksanakan instruksi presiden Jokowi terkait dengan Revitalisasi SMK melakukan koordinasi dengan berbagai Kementerian terkait, untuk bersinergi, termasuk dengan Keementerian Pariwisata. Sektor pariwisata sebagaimana diketahui memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB yaitu 4 % pada 2016.

Menurut data Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa lulusan SMK pariwisata pada 2016 tercatat 82.171, sementara kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK bidang pariwisata ini jauh melampaui angka lulusannya, yaitu 707.600 orang.

Sampai saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan Koordinasi termasuk dengan dunia usaha dan dunia industri untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja bidang pariwisata.

“Kepada pihak SMK maupun industri, agar kita bersama-sama membangun mindset yang benar dalam mengelola pendidikan SMK. Dalam membangun SMK mindset kita harus dirubah, dari pelatihan menjadi pelayanan-bisnis,” ujar Mustaghfirin dalam acara lokakarya dengan Tema Industri Perhotelan 2020 dan Pesiapan SMK Go Asia Tenggara bekerjasama dengan Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) beberapa waktu lalu.

Dengan mindset tersebut, lanjutnya, harapan SMK perhotelan dapat menumbuhkan ekonomi baru dapat diwujudkan, dengan pertumbuhan yang signifikan.

Hotel yang dimiliki SMK

Sejumlah SMK perhotelan unggulan sudah memiliki hotel sendiri yang dikelola secara profesional dan menghasilkan keuntungan secara ekonomi.

“Kita memiliki beberapa SMK Perhotelan unggulan untuk dijadikan percontohan bagi  131  SMK perhotelan di tempat lain. Misalnya, SMKN 1 Panji Situbondo, yang telah memiliki  Hotel Lotus sebagai “Edhotel” (educational hotel)  sebagai media pembelajaran siswa. Hotel Lotus ini termasuk yang terbaik, dari sisi pengelolaan maupun fasilitas yang tersedia, sehingga layak menjadi unit usaha komersial bagi sekolah,” kata Kumudawati, kepala sekolah SMK 1 Panji Situbondo. 

Hotel Lotus memiliki 17 kamar  dengan fasilitas, antara lain: laundry servive, Salon & SPA,  wall clambing, rental car, lapangan olahraga hingga masjid. Bahkan, Hotel Lotus ini telah tergabung pada Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHBI) wilayah Jawa Timur. Meskipun baru selesai dibangun 2016, tingkat huniannya cukup baik, yakni mencapai 50 % per-tahun.

Ada pula edhotel  SMKN 3 Kupang, yang telah memiliki 16 kamar dan dibangun sejak 2014. Menurut kepala sekolah SMKN 3 Kupang, Jeni JP Basrie, Edhotel yang dimiliki SMK itu didapat melalui proses panjang. “Dibayar dengan keringat dan air mata,“ ujarnya.

Di Sumatera Barat, ada Edhotel SMKN 9 Padang, telah berdiri sejak 2006, semula hanya kamar 6, saat ini sudah mencapai 21 kamar.

Setiap SMK memiliki potensi yang berbeda. Namun demikian, Industri perhotelan dan pariwisata di daerah cukup menggoda, karena setiap daerah memiliki destinasi wisata yang dinamis, ada di wilayah pesisir pantai, dan ada di wilayah pedalaman.

Mustaghfirin berharap, keberadaan SMK dewasa ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan kualitas SDM terampil, untuk siap bersaing dalam era global. Akan tetapi, SMK juga bisa dikembangkan perannya, sehingga dapat membangun “pertumbuhan ekonomi baru” di daerah-daerah. “Bukan hanya jumlah SMK yang bertambah. Tapi, tidak memberikan arti bagi pertumbuhnan ekonomi masyarakat,” katanya.

Selain itu, Mustaghfirin mengajak SMK supaya memiliki produk-produk bisnis yang dapat menggerakkan potensi ekonomi, baik untuk kemajuan SMK, maupun bagi kebaikan masyarakat di lingkungan SMK.

Contoh produk bisnis bagi SMK adalah membuat paket-paket wisata yang menarik di daerah, atau membuat produk kuliner khas daerah masing-masing. Dengan demikian, akan menjadi daya tarik wisata, pada akhirnya menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi baru.

Sementara itu, Direktur Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS) Zaenul Ula menyatakan, bahwa pengembangan SMK pada akhirnya akan menjadi arus utama dalam pembangunan ekonomi masyarakat, terutama di daerah-daerah. “Apabila dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan mindset  yang benar,”katanya.

Potensi tersebut sangat terbuka sebab SMK secara mayoritas dikelola swasta. Artinya, masyarakt memiliki kendali terhadap institusi tersebut. Mereka dapat melakukan terobosan-terobosan untuk menggenjot pemasukan di sektor ini. Saat ini jumlah SMK secara nasional sebanyak 13.400 sekolah: 10.000 dikelola swasta, sementara SMK negeri 3.400 . 


Sumber: http://rimanews.com

 

Beri nilai konten ini  
Responsive image