Harapan Lentera Malam

oleh Sri Rahayu 1.986

Sumatra,

Rona perdesaan saat dulu dan sekarang masih tetap sama. membawa indahnya suasana kehidupan yang murni. Raut wajah serta senyum lebar terpancar indah di masing-masing orang. Berjalan jalan mencari Nafkah, ada yang menggendong karung, ada yang membawa cangkul . semuanya pemandangan bagiku...

Rumah rumah yang berjejer rapi nan sederhana serta membawa kesan tersendiri bagi pengamatnya, aroma pagi yang disukai banyak warga membuat mereka bahagia dalam bekerja. Eksotis bukan desaku ?

Kehidupan perdesaan. Ya beginilah ?  Padi serta rerumputan seakan menari nari dalam perjalan ku menuju ke sekolah.

Sepeda butut bekas milik Alm. Kakek ku merupakan sepeda dengan sepenggal kisah tersendiri. Bagiku dia adalah sejarah karir ku. Walaupun karat itu menempel serta selebor yang miring ? namun itu masih tetap menjadi kesayanganku.

Tanpa nya aku pun tak bisa meraih ilmu, ayahku selalu berkata bahwa Ilmu itu Cahaya kita. Prinsip dan pondasi ku adalah ilmu dan Ibadah. 2 hal itu sangat berpengaruh akan cita cita ku menjadi Pilot ?

Ya bagiku Pilot adalah cita cita paling keren, bukan hal itu aku ingin membuka mata ku berkeliling melihat Luasnya Negara ini dari atas langit. Yang pasti Pilot yang bertanggung jawab akan tugasnya.

Namaku, Noor Rudy, Panggil saja Rudy. Kata ayahku nama itu pembawa karismatik padaku. Ayah yang memberi ku nama Rudy dan Ibuku memberikan nama Noor artinya adalah Cahaya, jadi itulah namaku Noor Rudy. Cahaya Karismatik, unik ? namun menarik, menurut keluarga ku.

Aku duduk di bangku SMP. Tepatnya aku kelas 1. Selama aku mengejar ilmu aku dibiayai oleh Penguasa Negeri ini. itu adalah hadiah paling indah yang aku dapatkan.

Di sekolah aku sudah banyak menjuarai kompetensi Mata Pelajaran, tidak hanya itu saja namun aku suka beladiri Pencak Silat beberapa kali ada yang kalah dan ada yang menang. Semua itu merupakan Pengalaman menakjubkan untukku.

Aku tinggal di rumah kecil, sederhana, atap ku hanya menggunakan Selembaran Dedaunan kering yang ditumpuk. Dinding dengan anyaman kayu. Aku tak pernah mengeluh akan keadaan keluargaku dan lingkungan ku, karena aku yakin, kelak pasti semua akan berubah.

Oh ya , aku mempunyai 2 saudara namanya Ratih Sari serta Noor Aru. Mereka masih duduk di kelas 5 dan 3 Sekolah Dasar, mereka sama seperti ku, mengejar ilmu dan dibiayai oleh Penguasa.

Orang tua kami sangat bangga dengan kami, aku selalu tersenyum ketika Ranking tertera di lembaran Raport tua milik ku. Kudapatkan Peringkat 1 tanpa Cuma Cuma.

Di sekolah kami, sangatlah ketat dalam urusan Nilai, maka dari itu kami setiap malam selalu membuka buku buku tua untuk di pelajari dengan Lentera.

Ku selalu dekat dengan Lentera itu, kami selalu berebut cahaya untuk bisa menuliskan kata perkata yang kami dapatkan dari buku buku tua.

Terkadang terjadi ributan kecil , dengan seberkas cahaya yang timbul kita mengolah kreatifitas kita untuk membuat bayangan yang lucu.

Adiku Aru, dia selalu membuat bayangan dari cahaya Lentera yang terpancar di dinding dengan memainkan tangan tangan kecilnya, tawa dan candanya selalu membuat malam itu penuh dengan cerita.

Ketika mereka dengan asyiknya menulis aku pun bertanya.

“ Apa cita cita kau orang ? “. Kalimat ini selalu aku selipkan saat adiku sibuk menulis kata kata di lembaran buku nya.

“ Aku tidak mengerti tentang cita cita? aku pun bingung dengan cita –cita ? memang haruskah ? kita membuat cita cita kaka ?” Ucapnya sambil fokus menulis Prnya.

Aku pun hanya tersenyum dan berkata “ Hidup itu harus ada tujuan dan arah , mau dibawa hidup ini dan badan ini ?”. ucapku sambil mengelus rambutnya.

 Adiku yang satunya pun tersenyum , “ He adik, lihat kakak kau ? dia ingin Jadi Pilot tau tak kau ? Pilot itu apa ? “ Ucap nya dengan nada agak sombong.

“ Taulah , pengemudi Pesawat Terbang ?”. Katanya.

Aku pun tetap melanjutkan membaca buku dan terkadang terselip senyum man lucu dari ku. Ibuku yang melihat kami pun juga ikut tertawa, ya mungkin malam itu bisa dijadikan sebuah “Diskusi Kecil” untuk merajut “Kesuksesan”.

Harapan kami selalu buat ketika selesai belajar. Seperti Aru, dia itu selalu mematikan Lilin nya pertama kali, sebelum mematikan Lilin dia selalu berkata jadikan lah Ilmu ku ini ilmu yang bermanfaat, dan kemudian Ratih dia hanya mematikan lilin tanpa make wish. Aku tak pernah tau alasanya ? aku tak pernah tanya mengenai itu.

Namun Ratih suka menggambar.

Dan terakhir aku Lilin ku matikan lalu aku berkata dalam kalbu “ Terima kasih atas semua yang Kau Berikan Tuhan, bantu aku ke jalan benar dan jadikan aku sebagai anak yang sukses di dunia maupun akhirat”.

Kami memang tak punya listrik , namun bagi kami Lentera ini adalah suatu cahaya masa depan kami. Kami selalu tersenyum saat mencoba menyalakan Lentera di malam hari. Gelap, jika tak ada setitik Cahaya yang terpancar dari Lentera tersebut.

Namun kegelapan dan hambatan bukan halangan untuk maju menggapai sebuah harapan.

“ Kegelapan malam , namun akan terang dengan sebuah Harapan yang matang “

Noor Rudy.

TAMAT

Konten ini dikontribusikan oleh:

Sri Rahayu

Nama Sri Rahayu saat ini kelas XI- TPPPP (Teknik Penyiaran dan Program Pertelevisian) SMK N 2 Pekalongan tinggal di Jalan Kusuma Bangsa, Boyong Sari Gang 2 No 18, PekalonganUtara. memiliki hobi Menulis, membaca, desain,ngemil dan nonton flim

Beri nilai konten ini  
Responsive image