Kerjasama RI-Belanda, NTT Jadi Percontohan Pengembangan SMK Pertanian

Oleh: Apriliyadi · Rabu, 18 Desember 2019 13.26 · 230

Bagikan

Bogor---Pengembangan sekolah berbasis vokasi kini menjadi salah satu upaya penyediaan tenaga kerja untuk industri. Untuk meningkatkan keterhubungan antara institusi pendidikan vokasi dan industri, Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Belanda membuat projek percontohan di Nusa Tenggara Timur.

Kerjasama tersebut dilakukan antara Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor dengan Maastricht School of Management (MSM) Belanda dalam proyek LMSINDO (Link and Match SMK in Indonesia) untuk tahun 2019-2021.

Direktur Polbangtan Bogor, Siswoyo mengatakan, sebagai sekolah vokasi selama ini Polbangtan Bogor telah membuat kurikulum 70 persen praktek dan 30 persen teori. Dalam pengajaran juga dengan pendekatan teaching factory. Artinya kegiatan praktek lebih banyak dibandingkan teori.

“Bahkan kami juga telah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan di bidang pertanian, termasuk dosennya juga ada yang dari perusahaan,” katanya di sela-sela Kick off LMSINDO di Bogor, Selasa (17/12)

Sementara itu Manager Proyek, Gigi Limpens mengatakan, LMSINDO merupakan proyek multi tahun untuk memperkuat kompetensi guru melalui peningkatan kapasitas pendidikan dan organisasi SMK di Indonesia. LMSINDO secara khusus fokus pada penguatan pelatihan guru di pendidikan kejuruan pertanian di NTT yang mewakili provinsi 3T, terdepan, terluar dan tertinggal.

Gigi mengakui, selama ini pertanian merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi di Indonesia. Pertanian di Indonesia menyumbang GDP sebsar 13,7 persen, industri 41 persen dan jasa 45,3 persen. Namun demikian, persentase sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja cukup besar. Pada tahun 2017 mencapai 32 persen atau sekitar 40 juta jiwa. “Sekitar 20 persen atau sekitar 1,56 juta  tenagar kerja berasal dari lulusan SMK,” ujarnya.

Namun lanjut Gigi, untuk SMK pertanian kurang banyak peminatnya dari kalangan generasi muda. Hal ini karena kurangnya terhubungan antara pendidikan vokasi pertanian dengan pasar tenaga kerja dan kemampuan skilnya. “Untuk itu perlu adanya peningkatan standar kompetensi untuk meningkatkan produktivitas guru SMK,” ujarnya.

Dalam proyek LMSINDO di NTT ini menurut Gigi, fokus pada pelatihan guru melalui peningkatan kapasitas pendidikan dan organisasi, serta pendampingan dalam meningkatkan SMK-PP Kupang menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

Dukungan KADIN

Wakil Ketua KADIN NTT, Yoseph Liem mengatakan, pihaknya mendukung upaya peningkatan kapasitas SMK pertanian di NTT. Apalagi banyak potensi pertanian, khususnya perkebunan yang belum tergarap maksimal. Di satu sisi, pemerintah pusat menginginkan pembangunan pertanian lebih cepat, tapi di sisi lain tenaga kerja lokal di bidang pertanian masih sangat kurang.

“Banyak lulusan SMK lebih suka menjadi PNS ketimbang ke industri, termasuk bidang pertanian,” ujarnya. Karena itu lanjut Yoseph, dalam kerjasama ini, KADIN NTT siap berkontribusi di SMK, khusus SMK pertanian dalam mengisi kurikulum entrepreneurship atau kewirausahaan. “Kita ingin lulusan SMK pertanian mempunyai jiwa entrepreneurship bidang industri pertanian,” tegasnya.

Yoseph melihat, industri pertanian di NTT berpeluang besar untuk dikembangkan. Apalagi pasarnya cukup terbuka, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga pasar di Timor Leste. “Timor Leste banyak memerlukan produk pertanian dari NTT, tapi selama ini masih kurang,” ujarnya.

Bahkan KADIN NTT telah menginisiasi proses pengembangan jaringan industri tiga negara, Kupang (Indonesia)-Dili (Timor Leste)-Darwin (Australia). “Ini menjadi peluang lulusan SMK untuk mendukung industri pertanian di NTT,” tegas Yoseph.

Sementara itu Dosen Vokasi IPB, Pria Sembada mengatakan, jika pertanian Indonesia mau maju, maka pendidikan vokasi memang harus dikembangkan. Namun demikian harus ada kerjasama dengan industri. Apalagi selama ini SMK justru dianggap sebagai penyumbang terbuka terhadap pengangguran.

Karena itu, untuk peningkatan SDM (siswa) dan guru, kurikulumnya harus sesuai harapan industri, sehingga dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. “Ke depan, kita harapkan pendidikan vokasi tidak lagi menjadi pilihan kedua, tapi menjadi pilihan utama,” ujarnya.

Sumber: tabloidsinartani.com
Bagikan

#PetuahPetuah

Kamu harus rajin belajar dan membaca, jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak mendapat pendidikan.

Wiji Thukul