Troso Nimbung Melambung di Paris

oleh Apriliyadi 521

Lenggak-lenggok peraga mode dengan beragam model dipertunjukkan di atas kapal pesiar yang menyusuri Sungai Seine di Paris, Prancis, awal Desember 2018. Sejumlah perancang ternama seperti Lenny Agustin, Deden Siswanto, Ali Charisma, Sofie, hingga Ichwan Thoha ikut hadir menyemarakkan peragaan busana La Mode Sur La Seine a Paris.

Di antara nama besar itu, terselip satu brand bernama Zelmira, karya sekolah menengah kejuruan (SMK), yang dipercaya dan diberikan kesempatan tampil menunjukkan potensi mereka.

Merek Zelmira berasal dari salah satu SMK di Kabupatem bernama SMK NU Banat Kudus. Zelmira dibentuk sekolah guna mewadahi karya siswa/i Jurusan Tata Busana SMK NU Banat Kudus yang didukung Djarum Foundation. Sebelumnya, alumni merekalah yang berhasil memamerkan 12 hasil karyanya. Perancis hanya satu dari beberapa negara, ada juga Hong Kong dan Jepang.

“Karena itu brand SMK NU Banat, jadi semua karya siswa pakai brand Zelmira. Kalau mereka sudah lulus, lalu mau pakai brand mereka sendiri juga tidak apa-apa,” kata Winarti Wulandari, Guru Produktif Tata Busana SMK NU Banat Kudus.

sumber : tribunnews

Troso Nimbung Melambung di Paris

“Troso Nimbung,” begitulah Fitria Noor Aisyah dan Farah Aurelia Majid, kelas 12 SMK NU Banat Kudus, menamai judul koleksi yang lahir dari kain tenun troso asal Jepara, Jawa Tengah itu. Kedekatan lokasi antara Jepara dan Kudus merupakan alasan mengapa memili kain tenun, selain secara personal kain tenun itu lebih disukai dibandingkan dibandingkan dengan batik.

Kain tenun trososo yang dinilai menjadi tradisi di Jepara diubah menjadi busana ready to wear yang sangat cocok dipakai di kalangan anak muda. Gaya busananya pun lebih fresh dengan konsep longgar di tubuh yang dilengkapi  dengan tampilan asimetris dan streetwear panjang sehingga cocok dipakai hijabers yang saat ini sedang nge-trend.

Sejalan dengan tujuan Indonesia Fashion Chamber (IFC), organisasi untuk para desainer yang melakukan fashion show di Paris, Prancis, sebagai unjuk karya mengenai keragaman dan kekuatan etnik lokal. Sebab itu, kedua siswi SMK ini sengaja memilih kain tradisional untuk rancangan busana mereka di bawah brand fesyen, Zelmira.

Menurut Ketua IFC, Ali Charisma, pergelaran busana berjalan lancar. Respons dari masyarakat Paris sangat luar biasa, terbukti tamu dengan undangan yang datang melebihi kursi yang disediakan panitia. Zelmira terbilang sukses menjual busananya.

“Hasilnya busana kami banyak yang beli, bahkan karya kami pun dihargai tinggi dalam mata uang euro,” ucap Farah.

Bagi Farah dan Fitria, pengalaman ikut peragaan busana di Paris menjadi batu loncatan untuk terjun ke dunia fesyen bagi Fitira dan Farah. Terlebih mereka berhak untuk berdiskusi bersama para desainer besar Tanah Air yang tergolong langkah. Hal ini menjadi kesempatan besar, untuk merintis karier di fesyen.

“Kami berdiskusi tentang pergantian model, konsep make up, baju atau busana yang akan di-show-kan dan didisplai di sana. Di waktu senggang kami memanfaatkan bertanya mengenai dunia fesyen,” kata Fitria.

 

Sumber : Media Indonesia dengan perubahan

Beri nilai konten ini  
Responsive image