Revolusi 4.0 dalam Perikanan

oleh Muhammad Rofi 429

Oleh Yonvitner ( Kepala Pusat Studi Bencana LPPM IPB)

Mampukah bidang kelautan dan perikanan ambil bagian dalam revolusi 4.0 ?, kita sadari revolusi 4.0 tidak hanya menyentuh bidang pemasaran, tetapi semua bidang produksi pengelohan, konservasi, pengawasan, manajemen hingga pemasaran.

Ketika program studi kopi dianggap mewakili entitas sebagai negara agraris, maka program studi pemindangan ikan harus muncul sebagai entitas negara maritim, apa yang special pada perikanan dan kelautan ?, pertama potensi perikanan dan kelautan yang besar, kedua konsumsi ikan yang lebih besar dari 30 kilogram perkapita pertahun, ketiga struktur negara kepulauan yang sangat potensial. Jadi apa dan bagaimana perikanan dan kelautan dikembangkan dalam arus revolusi 4.0.

Pertama kita harus menyadari negara kita memiliki keragaman sumber daya ikan laut yang luar biasa. Kita punya lebih 2000 spesies ikan, 1.500 jenis krustase, 2.500 moluska, 1000 karang, 850 sponge, 500an ekinodermata dan 30an mamalia laut. Belum banyak yang mendalami keberadaan spesies-spesies ini secara khusus, baik perannya dalam ekosistem, kandungan, dan khasiat maupun potensi bioaktifnya.

Ikan pelagis besar memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi yaitu tuna, cakalang, hiu, tenggiri, lemadang dan layaran, dalam perspektif bisnis, saat ini industrial ikan tuna bias dikembangkan mulai dari budidaya, manajemen lingkungan, teknologi penangkapan, pengolahan sampai pada bisnis. Sebuah rantai bisnis yang akan mampu menyerap tenaga kerja vokasi dan professional yang banyak

Pelagis kecil dan demersal dikembangkan karena menyerap tenaga kerja yang banyak, industry penangkapan kapal, industry pengolahan dan konservasi. Kapal cantrang bisa memperkerjakan lebih dari 10 anak buah kapal (ABK) perkapal. Jika ada 1.000 cantrang maka setidaknya ada 1000 nahkoda dengan 9000 ABK. Penangkapan dan pengolahan ikan memerlukan keahlian vokasi dan manejerial. Pelangis dengan kualitas premium bisa masuk dalam industry pengalengan yang dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Potensi ikan 12,5 juta ton per tahun sesungguhnya sebuah peluang dalam menyediakan tenaga kerja keahliaan yang sesuai dengan perkembangan revolusi 4.0, perikanan karang merupakan fenomena tersendiri karena bernilai ekonomi dan seni. Komoditas ikan target seperti kakap dan kerapu, jadi target penangkapan dan permintaan tinggi, untuk itu perlu dikembangkan budidaya mulai dari pembenihan sampai pemasaran dari jenis ikan karang target. Hatchery yang bisa tumbuh memerlukan tenaga kerja, teknologi pembuat keramba jarring apung (KJA) untuk pembesaran serta industry pengelohan filet dan susi.

Potensi serapan tenaga kerja ini belum termasuk komoditas ikan budidaya. Jika dikembangkan maka serapan tenaga kerja di bagain pembenihan, pembesaran, teknologi budidaya, keahlian panen hingga pemasaran akan lebih banyak lagi.

Forum Rektor Indonesia dan Konferensi Kampus, 16-18 Februari 2018, di Universitas Hasanuddin, Makassar, menyisakan pemikiran kepada seluruh rector untuk mengurai revolusi 4.0, era disrupsi harus disikapi dengan fleksibilitas program studi sesuai kebutuhan pasar, keberadaan media komunikasi saat ini telah mengubah dunia pendidikan harus adaptif terhadap teknologi, menghadapi revolusi 4.0, maka pendidikan vokasi tidak akan terhindarkan. Dalam sector perikanan yang paling tepat dikembangkan lebih awal adalah program marikultur. Lahan perairan sangat luas, teknologi juga sudah berkembang, komoditas sangat kompetitif terutama budidaya kerapu, kakap, napoleon dan tuna.

Sebagain besar teknologi pembenihan teknologi keramba, teknologi pembenihan, teknologi pembesaran, pengendalian penyakit dan pengelohan sudah dikuasai dengan baik. Marikultur dalam buku putih Kementerian Kelautan dan Perikanan disajikan paling tidak ada 12 jenis ikan kerapu, dimana 6 jenis bisa dipersiapkan benihnya, yaitu kerapu tikus, macan, batik, lumpur dan kerapu muara tetapi di dalam buku itu tidak dijelasakan proses adaptif marikultur dalam revolusi 4.0, Marikultur dalam buku itu mengungkapkan bahwa teknologi keramba, KJA pantai direncakan akan memperkerjakan 1450 orang dalam kondisi normal, KKP juga menargetkan rencana revitalisasi 250 unit KJA 1000 lubang yang diharapkan mampu mempekerjakan 500 orang.

Rencana bantuan KJA baru dari pemerintah, 2-2 unit di 22 provinsi dan 48 kabupaten/kota perlu di evaluasi. Kunci kesuksesan berbudidaya jika paradigma usaha menerapkan sistem berbasis masyarakat, sebagai usaha yang berisiko besar dalam investasi sebaiknya pengembangan marikultur melibatkan pengusaha local, dalam tata kelola perikanan dan kelautan, seharusnya sudah mampu mengadaptasi sistem informasi dalam big data. Mekanisme dalam pengumpulan data terpusat saat ini berpotensi menimbulkan eror yang lebih besar, alternatifnya pengembangan rintisan data perikanan harus dipacu dengan memanfaatkan nelayan penangkap, nelayan pengumpul, serta bakul dan tauke sebagai pengguna. Kelompok nelayan ini dibekali dengan android dengan aplikasi data terpusat dengan berapa catatan di lokasi masing-masing, adaptasi revolusi 4.0 pada sector perikanan dan kelautan tidak terlalu sulit, tinggal kemampuan manejemen yang ditingkatkan dengan melibatkan semua pihak.

Beri nilai konten ini  
Responsive image