e-Rapor SMK, Perjalanan Tanpa Akhir untuk Melayani

oleh Taufiq Damarjati 1.045

Tulisan ini dibuat dalam perjalanan penulis menuju lokasi kegiatan Penyusunan Standar Nasional Pendidikan Pendidikan Menengah Kejuruan. Dalam perjalanan, terbersit keinginan penulis untuk mengapresiasi seluruh unsur yang mengembangkan aplikasi e-Rapor SMK baik secara langsung maupun tidak langsung melalui artikel. Tulisan ini merupakan gabungan konsep-konsep, memoar, dan opini penulis. Penulis berharap, melalui tulisan ini, pandangan kita semua terhadap sistem penilaian di SMK (termasuk di dalamnya e-Rapor SMK) menjadi lebih terbuka dan clear.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) secara khusus dikembangkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai tenaga terampil tingkat menengah. Lulusan SMK merupakan output dari sebuah proses pembelajaran dan penilaian berbasis kompetensi (competency-based learning and assessment). Untuk itu penilaian harus dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh informasi yang valid tentang efektivitas proses pembelajaran dan tingkat pencapaian hasil belajar. Oleh karena kebutuhan akan lulusan SMK yang mengikuti perkembangan dunia kerja terus meningkat, standar serta kriteria penilaian yang ditetapkan/digunakan pun harus terus mengikuti standar kompetensi lulusan, perkembangan teori-teori penilaian, dan kompetensi kerja.

Direktorat Pembinaan SMK sebagai bagian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berdasarkan Permendikbud Nomor 11 Tahun 2015 memiliki fungsi untuk menyusun norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembelajaran dan penilaian pada sekolah menengah kejuruan.  Fungsi tersebut tentunya tercermin dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMK, khususnya pada Seksi Penilaian, Subdit Kurikulum. Di antaranya adalah membantu BSNP dalam menyusun Standar Penilaian Pendidikan Menengah Kejuruan dan mengembangkan pedoman serta aplikasi penilaian untuk pendidik dan satuan pendidikan.

Sebagai pencerahan, aplikasi e-Rapor bukanlah suatu aplikasi yang tumbuh dengan sendirinya. Aplikasi e-Rapor bukan pula sebuah aplikasi yang alakadarnya, yang sekedar-sekedar dibuat karena sekarang ini “zaman IT”, atau bahkan ambisi serta kepentingan bisnis pribadi. Aplikasi e-Rapor merupakan buah dari sebuah kesatuan usaha mulai dari penyusunan standar penilaian, panduan penilaian, penyusunan konsep aplikasi, pengisian referensi, uji coba, dan serangkaian integrasi. Puluhan bahkan ratusan orang terlibat di belakang aplikasi ini, mulai dari penyusun standar dan panduan penilaian, sampai dengan pengguna yang secara aktif membantu kami memberikan masukan untuk perbaikan aplikasi ini. Oleh karena itu, sangat penting bagi Direktorat Pembinaan SMK untuk memberikan penyadaran bagi seluruh pengguna dan pegiat SMK bahwa aplikasi ini adalah milik bersama dan keberhasilan implementasi dari aplikasi ini adalah keberhasilan bersama. Hal ini tidak terlepas dari keinginan Direktorat Pembinaan SMK untuk melayani secara maksimal guna tercapainya lulusan yang siap kerja dan bersaing pada era global dengan melibatkan berbagai pihak.

E-Rapor Direktorat Pembinaan SMK secara resmi mulai dikembangkan pada akhir tahun 2013 seiring dengan berlakunya Kurikulum 2013 secara nasional. Pada masa itu mungkin sudah banyak aplikasi-aplikasi sejenis yang beredar, baik yang diperoleh dengan berbayar maupun yang (mungkin) tanpa biaya. Kepala Seksi Penilaian, Bapak Dr. Junus Simangunsong, berdiskusi dengan penulis mengenai kemungkinan dikembangkannya standar aplikasi dari Kemdikbud untuk memudahkan kegiatan penilaian oleh pendidik dan pencetakan rapor. Akhirnya disusunlah sebuah konsep standar aplikasi sebagai cikal bakal e-Rapor SMK.

Pada pertengahan tahun 2014 berdasarkan konsep standar aplikasi, Direktorat Pembinaan SMK bekerja sama dengan Bapak Dr. Waskito dan Bapak Hariselmi dari Universitas Negeri Padang mulai mengembangkan aplikasi e-Rapor. Bersama dengan itu pula, tim Direktorat Pembinaan SMK melakukan digitalisasi referensi-referensi terkait kurikulum sampai dengan tingkat kompetensi dasar. Akhirnya pada rapat Unit Implementasi Kurikulum (UIK) Kemdikbud bulan September 2014 diputuskanlah bahwa aplikasi e-Rapor SMK dijadikan sebagai contoh atau protipe standar pengelolaan penilaian oleh pendidik dan satuan pendidik berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang dikembangkan oleh direktorat-direktorat pembinaan satuan pendidikan lainnya. Dan sejak bulan November 2014, e-Rapor SMK mulai dikembangkan untuk dapat terintegrasi dengan Dapodikmen dan menyesuaikan Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Oleh karena itu, pada bulan itu pula, tim pengembang aplikasi e-Rapor SMK mulai bersinergi dengan Tim Dapodikmen, Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan tim pengembang aplikasi e-Rapor SMA di bawah supervisi Bapak Suhadi Lili dengan target launching pada bulan Desember 2014.

Perencanaan pengembangan e-Rapor 2014 (Sumber: dok pribadi)

Tak dinyana, kebijakan Mendikbud pada bulan Desember 2014 untuk menghentikan Kurikulum 2013, mengembalikan fungsi Pusat Kurikulum dan Perbukuan, dan mengembalikan seluruh regulasi dan kurikulum yang berlaku menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), mendentangkan lonceng kemunduran bagi e-Rapor. Namun, bukan berarti e-Rapor benar-benar mati. Beberapa mantan “kombatan” dan warga SMK masih berupaya mengembangkan aplikasi manajemen penilaian dan sistem informasi manajemen sekolah. Dalam kondisi ini, penulis menyadari betapa besar keinginan seluruh pihak untuk bergotong royong mengembangkan sistem penilaian yang akuntabel dan itu sangat diapresiasi oleh Direktorat Pembinaan SMK.

Seiring mapannya implementasi kurikulum, pada awal tahun 2016 Direktorat Pembinaan SMK mulai mengembangkan kembali e-Rapor berdasarkan konsep dan modifikasi beberapa kode sumber dari e-Rapor versi sebelumnya. E-Rapor versi baru ini dikembangkan sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan dari Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015 mengenai Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan serta Panduan Penilaian pada Sekolah Menengah Kejuruan. Artinya e-Rapor versi baru ini harus mengakomodir implementasi kurikulum KTSP 2006 dan 2013.

Dalam prosesnya e-Rapor SMK melewati serangkaian pengujian oleh para guru sebelum rilis secara resmi. Selain itu, e-Rapor SMK juga dituntut untuk membantu memperbaiki kualitas data dari Dapodikdasmen sehingga harus terintegrasi secara sistemik dengan Dapodikdasmen.

Pada akhir tahun 2017, Subdit Kurikulum mengembangkan grand design pengembangan e-Rapor yang menempatkan e-Rapor sebagai platform yang usable, valid, controllable, dan easy-to-develop. Artinya di masa depan, aplikasi e-Rapor diharapkan untuk muncul sebagai “sistem operasi atau framework” di mana sekolah dan pengembang independen dapat mengembangkan aplikasi-aplikasi turunan berbasis e-Rapor, seperti classroom dashboard, integrated online assessment, achievement diagnostic tools, integrated job placement/recruitment, dll. Di samping itu, dengan konsep tersebut diharapkan penggunaan e-Rapor dapat termonitor oleh para stakeholder (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Industri, dll) untuk melakukan pembinaan lebih lanjut pada SMK-SMK yang ada dalam wilayah binaannya.

Pada akhirnya, tujuan seluruh sendi yang mengembangkan e-Rapor ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meningkatkan mutu layanan untuk anak-anak bangsa yang menginginkan pendidikan kejuruan yang bermutu. Jika bukan dengan dari kita, oleh kita, dan untuk kita, lantas siapa lagi.

Jika ada nama-nama yang berjasa mengembangkan e-Rapor dan tidak disebutkan pada artikel ini, percayalah, Gusti Allah mboten sare.

Konten ini dikontribusikan oleh:

Taufiq Damarjati

Analis Pelaksanaan Kurikulum, Subdit Kurikulum, DIrektorat Pembinaan SMK

Beri nilai konten ini  
Responsive image