Teguh Satrio Wicaksono Dan Jimly Adam Ahmad, Siswa Smk Mutu Gondanglegi, Juara Lomba Robot Nasional

oleh Apriliyadi 708

Di bidang rekayasa robotik, nama Jimly Adam Ahmad dan Teguh Satrio Wicaksono tak bisa dianggap remeh. Keduanya sukses mengukir sejumlah prestasi membanggakan. Terbaru, keduanya sukses menyabet dua medali di kompetisi robot tingkat nasional.

Nama Jimly Adam Ahmad dan Teguh Satrio Wicaksono sudah cukup familier di SMK Muhammadiyah 7 (SMK Mutu) Gondanglegi. Dua siswa kelas XI jurusan ototronik itu memang sering menyabet prestasi membanggakan di bidang robotik. Terbaru, tepatnya Minggu lalu (1/4), keduanya sukses berjaya di ajang Indonesian Youth Robot Competition (IYRC) 2018. Euforia kemenangan mereka tak berlangsung lama karena usai kembali ke sekolah, keduanya langsung menjalani praktek kerja industri (prakerin).

”Iya, ini masih prakerin. Jadi tidak bisa balik ke Malang, Mas. Kemarin saja lomba juga berangkat dari tempat prakerin,” terang Jimly. Di kompetisi yang paling gres itu, pelajar kelahiran 21 Maret 2001 tersebut mengaku tak punya persiapan khusus. Itu terjadi karena mereka mendapat informasi adanya kompetisi di waktu yang cukup mepet. ”Kami lomba juga persiapan seadanya karena tidak latihan. Itu kan lombanya Minggu (1/4), kami baru tahu sehari sebelumnya, jadi nekat saja (ikut),” jelasnya.

Keberangkatan mereka menuju lokasi lomba di Sunrise Mall Mojokerto juga tanpa didampingi pembimbing. ”Mungkin karena sudah sering lomba, sampai ada julukan petarung untuk kami. Karena memang tidak pernah bawa alat sendiri setiap kali lomba,” imbuh putra pasangan Muhammad Iqbal-Nur Aida tersebut.  Meski tampil seadanya, keduanya mampu menunjukkan kapasitas mumpuni. Dua medali dari tiga kategori lomba mampu mereka sabet.

Yakni, gold medal dari kategori brick speed dan bronze medal dari kategori soccer senior. ”Ikut tiga soccerbrick speed, dan maze solving. Yang menang hanya dua kategori,” jelas Jimly. Teguh Satrio Wicaksono menambahkan, kerja sama baik keduanya yang menjadi bekal untuk mendapat prestasi tersebut. ”Sudah biasa membagi tugas seperti itu, jadi bisa fokus. Saya lebih ke programnya,” tambah Teguh. Di kategori brick speed, Teguh mengaku sempat kesulitan. ”Yang brick speed itu harus cepat dan tepat. Jadi saling membagi konsentrasi agar hasilnya maksimal,” jelas pelajar kelahiran 22 Februari 1999 tersebut.

Meski sempat canggung, keduanya akhirnya mampu mengungguli 235 peserta yang mengikuti kompetisi tingkat nasional tersebut. ”Sempat tidak menyangka bisa juara karena memang lawannya banyak. Apalagi dengan kondisi yang ramai, untung bisa menang,” imbuhnya. Melihat persiapan yang minim, putra pasangan Arief Wahyudi-Dwi Wijayanti ini mengaku puas.

Pewarta : Hafis Iqbal
Penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Dwi Lindawati
Foto :SMK Mutu

 

Sumber: radarmalang.id

 

Beri nilai konten ini  
Responsive image