LITERASI DALAM PEMBELAJARAN MELALUI BUDAYA LOKAL DAN DIGITAL

oleh Endang Sadbudhy Rahayu 1.860

-praktik baik implementasi literasi sekolah di SMKN 1 Martapura-

Berkunjung ke SMKN 1 Martapura, kita akan disambut oleh tanaman hias yang segar dan tumbuh subur di Loby sekolah. Ketika memasuki bagian tengah, kita akan memasuki sebuah halaman sekolah yang dipenuhi pohon-pohon rindang yang di bawahnya telah dibangun tempat duduk bagi para siswa untuk beristirahat, bercengkerama maupun membaca. Diantara bangku-bangku semen yang dibangun secara permanen tersedia rak sepatu atau duplikasinya yang disulap menjadi rak buku dan majalah mengakomodasi mereka yang ingin membaca dan mencari referensi.

Di halaman yang teduh ini, warga sekolah dapat bercengkerama maupun membaca

Suasana tradisional dan sarat budaya lokal dapat kita temui di area Teaching Factory Tata Busana, di sana terpapar produk-produk dan suasana aktivitas berproduksi dalam bidang garmen. Tampak terpampang kain-kain sasirangan yang sedang proses penjemuran, suara dan operasi mesin jahit yang berderit, para siswa dan guru yang sedang menyiapkan barang-barang produksi berupa celemek maupun pakaian tari. “Di sekolah ini diproduksi pakaian tari yang disewakan bagi masyarakat” tukas Ibu Dwi Ayati Kepala SMKN 1 Martapura. “Untuk mendapatkan sasaringan dengan kualitas bersaing namun harga miring, para pelanggan harus mengantri. Saat ini sedang digarap pesanan seragam Pengawas Sekolah Provinsi Kalimantan Selatan”, tambah Ibu Dwi Ayati.

Berkreasi Tanpa Henti

 

Literasi budaya dan Kewargaan diimplementasikan dalam pembelajaran dengan wahana Teaching factory

SMKN 1 Martapura berkomitmen untuk mengembangkan literasi dalam pembelajaran dengan muatan materi budaya dan keunggulan lokal yang diintegrasikan dengan Teaching Factory. Produksi kain sasirangan yang menjadi unggulan di Kalimantan Selatan dilakukan untuk melestarikan budaya sekaligus kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang di Kalimantan. Bukan hanya itu, sebagai upaya lain menjaga kekayaan seni budaya, sekolah juga melihat bahwa seni tari di Kalimantan Selatan juga merupakan warisan leluhur yang perlu dijaga. Agar masyarakat mendapat kemudahan berekspresi seni dan mengasah kehalusan budi, maka sekolah membuat berbagai pakaian tari yang dapat disewa oleh masyarakat untuk kebutuhan penampilan tari. Di sekolah ini juga tersedia panggung terbuka yang memungkinkan berbagai elemen masyarakat untuk menampilkan karya seni. Tidak hanya itu, Panggung terbuka inipun dapat disulap menjadi area baca yang nyaman dengan penyediaan meja-meja rendah yang dapat digunakan untuk aktivitas membaca, menulis ataupun diskusi secara lesehan.

Dengan proses pembelajaran Teaching Factory, siswa diajak secara langsung mengimplementasikan Literasi Budaya dan Kewargaan seraya melihat peluang-peluang bisnis sekaligus menjadi penajaman kompetensi peserta didik. “Dengan model Teaching Factory, kami menjadikan proses pembelajaran sekaligus agen pelestari budaya” demikian Ibu Dwi Ayati menambahkan.

 

  

Aneka busana dikreasikan, baik busana tari, produksi sasirangan, ditampilkan dalam Launching Brand Get Smekma. Ada juga busana 3R (daur ulang) yang dilombakan.

Untuk mengembangkan kreasi setiap tahun juga disusun sebuah album rancangan busana para siswa yang ditampilkan dalam tema-tema tertentu. Sebagai contoh, tahun 2015: Busana Pesta Sasirangan yang Anggun dan Elegan; 2016: The Manipulating Fabric; dan 2017: The Royal Wedding”, sehingga karya-karya tersebut terdokumentasikan. Bahkan sudah dilakukan Launchig Brand produk Get Smekma sebagai merk dagang Teaching Factory SMKN 1 Martapura. “Kami berusaha terus melaju dengan, meski saat ini masih terkendala dengan payung hukum terkait pengelola keungan” tukas Ibu Dwi Ayati dengan penuh semangat.

Implementasi literasi tidak berhenti di bidang budaya dan kearifan lokal. Di SMKN 1 Martapura juga mengembangkan literasi digital dalam proses pembelajaran di Bidang Keahlian Multimedia. “guru dapat membuat kontennya, sedangkan siswa yang membuat penyajiannya dalam bentuk video atau film pendek” jelas Ibu Dwi Ayati. Karya-karya siswa dan guru berupa modul dan bahan belajar terpapar di berbagai area sekolah.

Beberapa materi ajar yang disusun dalam kolaborasi guru dan siswa, diproduksi dan dikoleksi baik di ruang prodi Multimedia maupun di perpustakaan. Dengan demikian guru dapat menggunakan sebagai media pembelajaran, sedangkan peserta didik dapat menggunakannya sebagai bahan pengayaan.

Sebagian koleksi media pembelajaran dalam ben-tuk video karya siswa dan guru yang tersimpan di ruang Multimedia

X Banner Video Cinta Tanah Air yang sedang diikutsertakan dalam lomba Video kepramukaan

Di sekolah ini, para siswa juga mewujudkan karya dalam bentuk film pendek yang dikutsertakan dalam kompetisi. Salah satu video yang saat ini sedang diikutsertakan dalam kompetisi adalah tentang kepramukaan yang diberi judul Cinta Tanah Air. Sedangkan film pendek yang juga sedang ikut serta dalam kompetisi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Provinsi berjudul “Logika”, yang memberi pesan tentang keberagaman menyangkut hidup bersama dengan penyandang difabel/ berkebutuhan Khusus. Hal ini diinspirasi oleh keberadaan siswa berkebutuhan di Prodi Multimedia.

Layanan kepada para penyandang difabel juga diberikan di sekolah ini. Bahkan menurut Ibu Aufa, salah seorang guru Prodi Tata Busana menjelaskan bahwa, “di prodi Tata Busana terdapat beberapa siswa difabel antara lain tuna rungu, down syndrome dan slow learner”. “Mereka mau belajar dan bekerjasama dengan teman-teman lainnya tanpa perasaan minder, sedangkan siswa lainnya menerima sebagai mitra kerja” demikian ditambahkan oleh Ibu Muhsinah dari prodi yang sama.

Meski di era digital, SMK Negeri 1 Martapura juga masih memberikan layanan penyediaan referensi dan bahan bacaan konvensional berupa buku-buku, majalah, surat kabar dan bahan referensi lainnnya. Namun demikian layanan kepada pengunjung sudah dilakukan semi digital. Misalnya setiap pengunjung harus mendaftar/ mengisi data kehadiran melalui perangkat komputer yang berisi aplikasi pendaftaran.

Apa yang dilakukan oleh SMK Negeri Martapura memang masih jauh dari sempurna, namun upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk menjadikan aktivitas literasi menyatu dalam pembelajaran menjadi nilai lebih bagi sekolah ini. Literasi tidak dipahami hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun sudah menjadikan literasi sebagai sarana untuk menjadikan pemahaman terhadap sesuatu hal menjadi lebih berguna.  Sebuah upaya yang layak diberi acungan jempol, sebagai bukti nyata SMK Bisa!. SMK Hebat!

Beri nilai konten ini  
Responsive image