Tingkatkan Potensi Wisata dengan SDM Profesional

oleh Apriliyadi 835

harianjogja.com, JOGJA-Program peningkatan SDM profesional di bidang pariwisata bertujuan untuk meningkatkan potensi wisata di berbagai tempat di Indonesia.

 “Maka kita harus menyiapkan kader-kader yang profesional terutama dari pelajar SMK, tahun ini sudah ada beberapa provinsi yang sudah kita adakan kegiatan pelatihan dan sertifikasi, termasuk DIY ini di SMKN 6 Jogja,” ungkap Perwakilan Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata Kementerian Pariwisata Wastutik, Senin (26/2/2018).

Ia menilai SMK menjadi salah satu jenjang yang disasar karena memiliki program keahlian terutama bidang wisata. Selain SMK Negeri, ada beberapa SMK swasta di Indonesia yang sudah terakreditasi A yang disasar untuk diberi dukungan pemberian pelatihan dan ujian sertifikasi profesi.

“Dalam sepekan itu kami memberikan ujian sertifikasi itu di 15 SMK, jadi kami terus bergerak seluruh Indonesia, seperti di DIY kebetulan sementara hanya satu SMK saja,” imbuh dia.

Ia mengakui memang tidak semua SMK dapat diberikan bantuan untuk pelaksanaan sertifikasi profesi. Karena keterbatasan anggaran, pihaknya melakukan seleksi dan dipilih SMK yang sudah memenuhi syarat, salahsatunya memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1). “Karena SMKN 6 ini memenuhi kualifikasi yang kami syaratkan, ya mami berikan dukungan dana untuk pelaksanaan uji kompetensi,” ujarnya.

Para siswa yang lulus uji kompetensi, kata dia, diharapkan tidak sekedar mendapatkan sertifikat profesi. Namun, sebagai kader di bidang pariwisata di Indonesia sesuai kompetensi masing-masing. Ia meyakini dengan memiliki sertifikat profesi akan lebih mudah diterima bekerja di suatu perusahaan.

“Kalau saya lihat keseriusan peserta [uji kompetensi di SMKN 6] tampaknya mereka sudah siap menjadi kader pariwisata,” kata dia.

Kepala SMKN 6 Jogja Rustamaji menambahkan, sekolah merasa terbantu dengan adanya bantuan pemberian uji kompetensi sertifikasi profesi dari Kementerian Pariwisata. Program ini sekaligus untuk mendukung revitalisasi SMK yang digalakkan oleh pemerintah pusat. Sehingga pihaknya harus memastikan lulusan sekolahnya sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (Dudi).

Adapun proses ujian juga menganut pada standar kompetensi kerja nasional (KKNI). Salah satu ujian house keeping misalnya, siswa harus memenuhi standar tersebut dengan diberikan waktu 35 menit untuk merapikan kamar hotel. “Jadi anak-anak siap sesuai kebutuhan industri pariwisata dan dibuktikan dengan sertifikat profesi yang didapatkan melalui ujian itu,” tegasnya.

Terpisah Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menyatakan, pengembangan SMK melibatkan sejumlah kementerian melalui program revitalisasi SMK. Program itu menyelaraskan kurikulum sekolah dengan Dudi untuk meningkatkan keterserapan lulusan SMK dalam memasuki dunia kerja tanpa harus melalui job training di perusahaan tempat bekerja. “Beberapa kementerian melaksanakan tugas untuk pengembangan SMK,” ujarnya.

Sumber: harianjogja.com

Beri nilai konten ini  
Responsive image