Revitalisasi SMK Berbasis Pengembangan 5 Wilayah Adat Papua

oleh Apriliyadi 657

MONDAYREVIEW.COM – Geliat pengembangan sekolah menengah kejuruan atau SMK di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan, tak terkecuali di Provinsi Papua.

 

Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Papua Yulianus Kuayo mengatakan, bila di tahun 2030, lulusan SMK di Papua bisa terserap ke dunia industri dengan cara menciptakan lapangan kerja sesuai potensi keunggulan Papua.

 

“Masing-masing wilayah memiliki keunggulan sumber daya alam, maka segala bentuk kebijakan harus disesuaikan dengan pendekatan antropologi lima wilayah adat masyarakat Papua,” ujarnya seperti dilansir dari laman resmi Kemendikbud.

 

Dalam sebuah diskusi santai di Jakarta, Kepala Kantor Badan Penghubung Provinsi Papua, Alexander Kapisa mengatakan, bahwa Provinsi Papua memiliki 5 kawasan adat, antara lain Saireri, Mamta, Mee Pago, La Pago, dan Animha. Kelima wilayah adat tersebut masing-masing memiliki kekayaan seni, budaya dan sumberdaya alam yang khas. Maka itu harus ada pola pembangunan yang melihat kearifan lokal mereka.

 

“Dengan pola pendekatan pembangunan lima wilayah adat, maka fokus pembangunan di berbagai sektor dapat menjadi lebih baik, termasuk memunculkan potensi seni dan budaya masing-masing wilayah adat tersebut,” ujar Alex.

 

Salah satu contoh betapa kayanya budaya Papua misalnya saja di wilayah adat Animha, yang meliputi Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappi. Secara geografis, masyarakat yang hidup di wilayah adat Animha berada di wilayah tengah Papua, yang tentu saja berpengaruh banyak pada model kehidupan dan kebudayaan yang mereka miliki.

 

Terutama sekali Suku Asmat, yang dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Suku Asmat meyakini bahwa mereka berasal dari keturunan dewa Fumeripitsy yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menurut keyakinan mereka, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh dari pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai akhirnya tiba di tempat yang kini didiami oleg orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan.

 

Orang-orang Asmat pandai membuat hiasan ukiran. Hebatnya, mereka membuat ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran yang mereka buat memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi Suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa. Mengukir adalah jalan untuk berhubungan dengan para leluhur.

 

Artinya, pengembangan SMK di Provinsi Papua sebetulnya tinggal melihat karakteristik masing-masing wilayah adat tersebut. Lalu memasukan unsur teknologi dan yang tak kalah penting adalah semangat entrepreneurship.

 

Terutama untuk Orang Papua Asli (OAP), dibutuhkan penanaman semangat wirausaha dengan tenaga yang ekstra. Pusat-pusat ekonomi seperti di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini sesungguhnya menjadi peluang besar bagi OAP untuk mengembangkan usaha.

 

Disinilah signifikansi dari ditetapkannya lima kawasan adat Papua, yang diproyeksikan dalam setiap jengkal pembangunan di Tanah Papua. Bahwa apa pun yang mengatasnamakan pembangunan di Papua, sejatinya menggunakan pembagian kawasan adat ini sebagai titik tolak.

Termasuk pembangunan pendidikan vokasi atau SMK di Papua, supaya tepat sasaran, maka harus mengacu pada pengembangan 5 kawasan adat tersebut. Misalnya saja untuk pengembangan SMK di wilayah adat La Pago atau pun Mee Pago, letaknya yang berada di Pegunungan Tengah, tidak memungkinkan untuk dikembangkannya SMK perikanan. Baik Mee Pago maupun Laa Pago, adalah kawasan dengan tebing yang terjal dan lembah yang dalam. Sebaliknya, SMK yang cocok dikembangkan di dua wilayah adat tersebut adalah SMK pertanian, tata boga, dan ekonomi kreatif.

 “Membangun semesta kekuatan lokal harus mengakui adanya culture diversity, kondisi lokal yang terkait dengan sistem kehidupan masyarakat,” terang Alex mantap.

Sumber: mondayreview.com

Beri nilai konten ini  
Responsive image