Prestasi Mentereng, Ini Hebatnya SMK Jateng

oleh Yuli Setiawan 273

Kebanyakan warga Jawa Tengah (Jateng) menganggap bahwa biaya sekolah terbilang mahal. Lantaran itulah, masih banyak ditemukan di provinsi ini anak yang belum mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Padahal, pendidikan adalah hal yang penting untuk kemajuan hidup seseorang.

Adalah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang membuat terobosan pada Juni 2014. Pria yang menjadi orang nomor satu Jateng sejak 23 Agustus 2013 itu membuka Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) Jateng. Dengan biaya pendidikan gratis, sekolah ini menyasar siswa dari keluarga miskin. SMK Jateng hadir di tiga kota yakni Semarang, Pati, dan Purbalingga.

Hingga kini, SMK Jateng menjadi jujugan atau pilihan pertama warga miskin menyekolahkan anak. Alasannya, SMK Jateng menorehkan prestasi mentereng pula.

SMK Jateng menjadi pemuncak ujian nasional (UN) kategori SMK se-Jateng. Tak hanya itu, tujuh siswa SMK Jateng tercatat meraih nilai 100 pada UN mata pelajaran matematika.

Prestasi akademis lainnya adalah juara pertama Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) Kimia se-Jateng. Saat berlomba di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tim SMK Jateng menjadi juara I Nasional Lomba Kewirausahaan BMC.

"Selain prestasi yang bagus, siswa di sekolah ini juga selalu menjadi rebutan sejumlah perusahaan. Bukan para siswa yang mencari pekerjaan, namun justru pimpinan perusahaan-perusahaan besar di Jateng yang berebut tenaga kerja berkualitas," kata Wakil Kepala Humas SMK Negeri Jawa Tengah Suyoto saat ditemui di kantornya di Jalan Brotojoyo 1 Kota Semarang, Selasa (7/11/2017).

Bekerja

Lebih lanjut, Suyoto menerangkan angkatan tahun pertama yang sudah lulus semuanya sudah diterima bekerja di sejumlah perusahaan besar, di antaranya PT Hitachi, PT Astra, PT Komatsu, sejumlah perusahaan garmen, perusahaan suku cadang alat berat, dan menjadi pimpinan BUMD di Jateng.

"Kami memastikan seluruh lulusan pertama tahun ini sudah mendapatkan pekerjaan. Yang kuliah juga banyak dan semuanya beasiswa ada di UGM, Polines, Unnes, STAN dan STEM Akamigas Cepu," terangnya.

Siswa dengan kualitas bermutu tinggi yang dihasilkan SMK Jateng ini kata Suyoto membuktikan bahwa siswa dari keluarga miskin mampu bersaing jika mendapat akses pendidikan setara.

"Kami akan terus menjadikan SMK Jateng sebagai wadah bagi masyarakat miskin menuntu ilmu dan mewujudkan cita-citanya," tuturnya.

Suyoto meneruskan kali pertama dibuka, 900 lebih calon siswa mendaftar di sekolah tersebut. Mereka disaring menjadi 300 melalui sejumlah tes.

"Pendaftaran awalnya melalui online, karena syarat utama harus miskin, berkas yang masuk diverifikasi sebelum dinyatakan lolos uji kompetensi akademik," ujarnya Suyoto.

Uniknya, untuk memastikan siwa benar-benar dari keluarga tidak mampu, dilakukan kunjungan ke rumah calon siswa. “Seperti apa rumahnya, ekonomi orang tuanya, dan kemauan belajarnya," katanya.

Selanjutnya, seluruh kebutuhan siswa ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jateng serta bantuan dari Bank Jateng. Kebutuhan yang ditanggung meliputi lima seragam sekolah termasuk olahraga dan seragam praktik, baju biasa, kebutuhan makan, kebutuhan mandi, dan bantuan uang saku dari Bank Jateng.

Di SMK Jateng terdapat tujuh program studi keahlian yakni lima program studi di Semarang dan dua di Pati. Lima program tersebut yakni Teknik Bangunan, Teknik Elektronika, Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Mesin, dan Teknik Otomotif.

Sedangkan, dua  program yang di Pati yakni Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian dan Teknik Otomotif.

"Selain itu, di SMK Negeri Jateng juga terdapat sejumlah kegiatan baik untuk intrakurikuler maupun ekstrakurikuler seperti OSIS, Majelis Perwakilan Kelas (MPK), Pramuka, PMR, Paskibra, Rekayasa Teknologi, Seni Tari, Kesenian Jawa, Drum Band, Jurnalistik, Karate Seni musik dan sejumlah kegiatan lain," pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan berdirinya SMK Jateng ini merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan ruang pada setiap anak yang ingin menggapai cita-citanya dengan pendidikan.

Terutama, bagi mereka yang keadaannya kurang beruntung. "Yang berbohong pura-pura miskin dan tidak jujur maka akan di coret dan digantikan dengan orang yang benar-benar jujur, berkompeten, dan berprestasi," kata Ganjar menegaskan.

Sumber: http://regional.kompas.com

Beri nilai konten ini  
Responsive image