Job Matching SMK Jadi Ajang Penyesuaian Kurikulum SMK

oleh Yuli Setiawan 1.035

Lulusan SMK banyak diprioritaskan sebagai tenaga kerja industri. Sayangnya, selama ini serapan industri terhadap SMK dirasa belum maksimal. Hal ini terlihat dari 2.515 pencari kerja lulusan 2016/2017 yang mengikuti Job Matching di SMKN 3 Surabaya. Jumlah pencari kerja tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan lowongan yang disediakan 1.515 lowongan.

Kepala Bidang Pendidikan Kejuruan Dinas Pendidikan Jatim, Hudiono, mengungkapkan bahwa Job Matching bukan hanya ajar pamer banyaknya industri yang mencari pekerja.

Tetapi harus menjadi bekal penyamaan kurikulum SMK dengan kebutuhan Industri. Sebab, dalam Job Matching, pencari kerja bukan hanya dari lulusan SMK.

“Jadi kurikulumnya jangan sampai ada jarak dan ketidaksesuaian dengan kebutuhan industri. Setiap program harus ada yang dilatih dari sekolah dan juga dari industri,” ungkapnya dalam pembukaan Job Matching di SMKN 3 Surabaya.

Dengan demikian kemampuan bersaing siswa SMK akan lebih tinggi karena memenuhi standar Industri. Hal ini juga bisa dikembangkan dengan membuka kelas industri di SMK. Bahkan Dindik Jatim akan mengembangkan kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja.

“Ada kelompok kemitraan atau pemagangan, jadi bisa difungsikan bursa kerja khusus (BKK). Akan dilombakan juga nantinya agar Disnaker bisa mendorong sekolah memiliki persiapan menyalurkan siswanya melalui BKK,” ujarnya.

Ia menegaskan, potensi SMK di Surabya sangat lengkap, bahkan memiliki satu-satunya SMK jurusan seni. Sehingga harusnya sekolah bisa mengatur kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri yang beragam.

Kepala SMKN 3 Surabaya, Mudianto mengungkapkan Job Matching ini diadakan dengan memberikan sarana pada industri untuk menuntaskan rekrutmen di sekolah. Perlengkapan tes disediakn di 5 ruangan yang sedang tidak digunakan karena siswa magang.

“Sehari penuh selama 20 hari kami memberi kesempatan dudi (Dunia Usaha dan Dunia Industri) untuk merekrut tenaga kerja, sehingga setiap calon pencari kerja bisa mengikuti proses perekrutan,” jelasnya.

Job Matching ini juga terbentuk karena adanya kerjasama sekolah dengan 52 perusahaan yang pernah merekrut alumnus di SMKN 3. Diharapkan Job Matching ini bisa menjadi pengelolaan alumnus layaknya siswa baru yang diperhatikan keberlangsungannya.

“Presentase siswa ada yang bekerja atau ke perguruan tinggi. Makanya kami banyak kerjasama dengan dudi untuk menyiapkan tenaga kerja,” ungkapnya.

Saat ini dikatakannya sekolah juga sedang menjalin kerjasama dengan industri untuk mendidik wirausaha. Bahkan sudah ada 4 siswa yang bekerja sebagai bisnis aplikator sambil menyelesaikan sekolah.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com

Beri nilai konten ini  
Responsive image